Tentang Dompet kosong. Lalu terjadilah sambat.
Ini adalah salah satu tulisan rutin. Saya tuliskan ditengah malam. Karena saya memang mengalami banyak kemunduran, tidak sempat menulis selama hampir satu tahunan.
Inspirasi tulisan kali ini, dari status pelanggan saya tanggal 11 Juni 2025.

Sebenarnya sambat itu bentuk curhat, tujuannya meluapkan emosi negatif. Menguapkannya sehingga tidak mengkristal menjadi stress dan depresi.
Satu hal yang sangat penting dalam sebuah sesi curhat, adalah tentang penerima curhatnya itu. Apakah beliau-nya kuat untuk menerima semua keluhan dan curhat dari teman-temannya.
Karena menerima curhat pun, secara langsung dan tidak langsung juga menambah beban pikiran dan hidup kita. Saat terjadi sebuah aktivitas curhat, biasanya ditambahi grenengan. Nggrenengi. Alias membicarakan kejadian/orang yang tidak mengenakkan.
Dulu saat saya belajar hipnoterapi, saya diajari bahwa setiap habis memberi terapi kepada orang-orang, para terapis itu dianjurkan untuk melakukan grounding. Jadi yang memberi terapi pun harus melakukan grounding. Grounding itu adalah teknik untuk kembali ke masa kini, tidak nggrambyang kemana-mana, tidak ikut kepikiran hasil curhatan dari para pasien.
Saya bahas grounding lebih lanjut ini di website sebelah saja, yang lebih cocok dengan tema-tema terapi.
Website tondytenda ini kan tujuannya untuk menyediakan bantuan kepada pelaku usaha kecil, utamanya pada penyediaan perlengkapan jualan dan usaha. Selain itu juga untuk memberi motivasi sehingga pelaku usaha kecil tidak patah semangat lalu beralih jalur menjadi tenaga kerja bagi orang lain.
Jadi, ya tulisan kali ini juga akan membahas fenomena dompet kosong yang disampaikan diatas. Membahas kalau tidak punya uang lalu kita harus bagaimana. Sekaligus juga, membuka diri saya sendiri untuk menerima curhatan bagi pelaku usaha kecil yang kehabisan duit atau modal. Saya dan anda, kalau kehabisan modal, tentu pusing tujuh keliling. Siapa tau ada yang mau curhat kepada tondytenda.
Dompet Kosong Tidak Punya Uang Sama Sekali
Tidak punya uang sama sekali, alias dompet kosong. Lalu kita bisa apa?
Kalau saya, ada beberapa jawaban. Setidaknya terbagi jadi dua jawaban besar. Jawaban besar yang pertama adalah kita tetap aktif. Kudu ubet ben iso ngeliwet.
Jawaba yang kedua adalah kita coba untuk diam. Diam ini mengikuti filosofi dari bapak pendidikan, Ki Hadjar Dewantara. Ajaran beliau, “Neng, ning, nung, nang, gung”
Yang pertama dimana kita tetap aktif, terbagi jadi beberapa cara.
Tetap aktif yang pertama adalah melakukan penyadaran diri sendiri. Coba anda tanyakan pada diri anda sendiri saat dompet kita kosong, “terus kenapa?”
Toh kita harus tetap bekerja, mengerjakan kewajiban-kewajiban yang kita jalani sehari-hari. Dompet kosong hanya berarti kita tidak bisa berbelanja. Hanya berhenti berbelanja. Namun kewajiban lain yang masih harus dikerjakan kan tetap bisa dikerjakan. Contohnya kaya saya misalnya, saat detik ini tidak punya uang, ya tetap harus menemani belajar anak. Tetap mengingatkan anak. Tetap melayani pelanggan. Tetap harus jaga kebersihan.
Jangan terpaku pada kosongnya dompet. Memang itu membuat kita stress secara finansial. Merasa masa depan begitu gelap, karena tidak memegang uang sama sekali.
Tapi ayolah, sadari, masa depan masih terjadi besok, yang bisa dikerjakan hari ini maka kerjakanlah sekarang. Membersihkan rumah, memperbaiki barang-barang rusak, dan sejenisnya. Lakukan hal-hal yang tidak membutuhkan banyak uang.
Saat kita sibuk menggerakan diri kita itulah, umumnya kesempatan akan kembali terbuka pada diri kita. Tiba-tiba secara aneh ada rejeki yang datang. Tiba-tiba secara aneh ada peluang usaha untuk coba ditekuni.
Tetap aktif yang kedua adalah, jual dan jual. Kalau kita mau, sebenarnya banyak dirumah peralatan-peralatan yang tidak dibutuhkan dan sebenarnya bisa dijual. Selain mengurangi isi rumah, juga bisa mendatangkan cuan.
Sekarang ini juga kan menawarkan barang yang dijual tidak susah. Barang yang ingin anda jual, anda posting di whatsapp. Atau anda posting di Facebook di forum jual beli. Jual saja dengan harga yang rendah. Pasti akan cepat laku.
Jual barang yang sudah berbulan-bulan tidak anda gunakan. Karena sudah pasti barang itu sebenarnya tidak anda perlukan. Contohnya anda punya sepeda, hanya menggantung dirumah. Memenuhi tempat. Kenapa tidak anda jual, atau anda hibahkan kepada orang. Toh sudah berbulan-bulan tidak anda pakai lagi.
Saat nanti rumah lowong, dan cenderung lebih bersih, semangat anda untuk kembali bekerja pasti juga membaik. Energi kehidupan juga lebih mudah mengalir saat tidak ada barang-barang rusak (nganggur) di sekitar kita.
Tetap aktif yang ketiga, mencari kerja. Iya, walaupun kita pelaku usaha mandiri, namun bisa juga kita mencari kerja lain selama kita belum bisa sepenuhnya mengoperasionalkan usaha kita.
Kenapa tidak coba pinjam akun gojek, shopeefood, atau sejenisnya milik teman. Lalu dinyalakan. Lalu dilihat apakah akan dapat customer atau tidak.
Atau lakukan kerja-kerja sukarela. Dimana kita jadi lebih sibuk pada rentang waktu yang tidak terlalu lama.
Nanti jika perekonomian kembali membaik. Misal ditandai dengan periode gajian para pegawai (dimana mereka akan berbelanja). Atau saat tahun ajaran yang sudah dimulai. Atau dengan berakhirnya musim hujan. Atau momentum ekonomi lain yang kembali muncul, barulah anda geliatkan lagi usaha yang sudah anda jalani selama ini.
Itu jika kita memilih tetap aktif. Selain tiga hal yang saya jelaskan itu, masih banyak cara lain lagi yang bisa anda ikuti.
Jadi sebenarnya dompet kosong, adalah realita hidup. Harus kita terima. Seperti juga saat kita menerima kondisi dompet kita yang tebal. Tebal karena nota nota belanjaan he he he.
Bahasan menghadapi dompet kosong dengan cara diam akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya ya. Ternyata tulisan kali ini sudah cukup panjang. Tulisan ini saja, saya buat tanpa menggunakan metode penulisan yang enak untuk dibaca.