Usaha Tidak Menghasilkan Uang, Beberapa Kesalahan Mengelola Uang

Usaha Tidak Menghasilkan uang dan tidak berkembang. Terus merugi dan membuatmu berhutang untuk menutup pengeluaran. Kenali beberapa kesalahan mengelola uang Usaha.

Usaha Tidak Menghasilkan Uang
Serem ya gambarnya, hahaha

Sebenernya ada beberapa keadaan usaha menurut penulis. Baik usaha besar, atau usaha mikro sekalipun, prinsipnya sama saja. Menghasilkan vs tidak menghasilkan, dan berkembang vs tidak berkembang.

Keadaan tidak menghasilkan uang tetapi usaha berkembang,

Keadaan profit (menghasilkan keuntungan berupa uang) tapi tidak berkembang,

Usaha tidak memberi keuntungan nahasnya juga tidak berkembang,

dan yang paling baik adalah

usaha yang menguntungkan sembari usaha juga terus berkembang.

Usaha tidak menghasilkan uang tetapi terus berkembang

Bisnis atau usaha macam ini bisa dilihat pada bisnis yang sedang ngetrend sekarang. Kaya startup yang menjunjung tinggi valuasi alias nilai ekonomi dari usaha tersebut. Sebutlah dua ojek online yang merajai jalanan itu. Mereka belum profit lho, alias belum menghasilkan uang. Tapi jika ditanya nilai ekonomi dari bisnis tersebut, nilainya sangat besar bisa mencapai triliunan rupiah. Keadaan usaha seperti ini, bisa disebabkan karena bisnis yang sedang melakukan penetrasi pasar besar besaran. Pemberian promo, diskon, dan fasilitas yang memanjakan konsumen dilakukan secara masif. Akibatnya, uang yang ada ibarat dibakar. Makanya disebut strategi bakar uang.

Usaha menguntungkan, memberi kita uang, namun tidak berkembang

Keadaan ini bagus. Gambarannya hasil kerja kerasmu terbayar, membuat kamu bisa hidup dari usahamu dan kamu menikmatinya. Keadaan bagus ini tidak boleh membuat kita sebagai pemilik usaha terbuai dengan keadaan. Terbuai pun jangan lama lama, nanti keburu disalip sama pesaing.

Contoh usahanya, misal kamu punya toko kelontong. Toko tersebut ramai dan tidak merugi. Tapi kamu tidak berusaha untuk membuat penambahan cabang toko, atau pengembangan lainnya. Siap siap saja kesalip sama pesaing.

Usaha merugi, dan tidak berkembang

Ini yang paling buruk. Lebih baik segera ditutup saja usahanya. Atau sebagai pemilik usaha ya harus berbenah agar tidak merugi, atau bisa berkembang. Bekerja keraslah menjauh dari jurang kehancuran.

Usaha bisa berkembang dan menguntungkan

Kondisi ini adalah dambaan bagi setiap pemilik usaha. Kita membuat penambahan pada usaha kita, dan penambahan tersebut memberi lebih banyak keuntungan buat kita. Sering lho penambahan atau pengembangan tidak memberi keuntungan.

Contoh nih, apa ada jaminan saat kita buka cabang usaha, maka cabang usaha tersebut akan sama ramainya dibandingkan usaha awal kita? Kalau ternyata sama, ya harus disyukuri.

Jadi kata kuncinya adalah tidak merugi. Gimana caranya agar tidak merugi? Paling sederhana adalah kita kelola keuangan usaha kita dengan sebaiknya.

Penyebab umum usaha kita merugi

  • Kita nggak menghitung arus kas usaha kita. Kita nggak tau pemasukan dan pengeluaran usaha kita.
  • Mencampur keuangan usaha dan keuangan pribadi. Pengeluaran pribadi dianggap sebagai pengeluaran usaha. Padahal belum tentu pengeluaran pribadi akan menunjang usaha.
  • Nggak punya rencana usaha. Bahasa kerennya bisnis plan. kata orang bijak, rencana yang buruk, masih lebih baik daripada nggak ada rencana sama sekali.
  • Suka menunda dalam menambah pemasukan. Mentang mentang arus kas masih positif, lalu bermalas-malasan mencari tambahan pemasukan. Atau menunda menagih pembayaran dengan berbagai alasan.
  • Menjunjung tinggi gengsi, melupakan fungsi. Kalau kita mengutamakan fungsionalitas maka kita akan terpacu untuk mencari yang paling efektif daripada yang paling menambah gengsi. Contohnya nih, mana lebih bergengsi jualan di dalam mall, sama di pinggir jalan. Padahal belum tentu jualan di Mall bisa seramai jualan kaki lima.
  • Manja, menuntut apa apa dikerjakan oleh orang lain. Kalau bisa dikerjakan sendiri, mengapa membayar orang lain mengerjakannya.
  • Nggak mempersiapkan dana cadangan atau darurat. Ada kalanya usaha dihantam oleh faktor eksternal, kalau tidak punya dana cadangan, apa ya bisa bertahan setelah krisis terjadi.

Jadi yang harus kamu lakukan setelah ini,

Mulailah memisahkan keuangan usaha dan pribadi. Anggaplah kamu pelaku usaha mikro atau kecil, kalau berani hidup prihatin ya kamu buat dua puluh persen saja dari pemasukan (keuntungan bersih lho, bukan omzet) untuk biaya hidup, sisanya diputar untuk menjalankan roda usaha alias di kembalikan dalam kas usaha.

Milikilah pembukuan usaha atau setidaknya pencatatan usaha sehingga kamu bisa mengetahui kemana saja uang usahamu itu pergi. Dengan pencatatan juga kamu bisa tahu, darimana saja pemasukanmu berasal.

Bikin rencana usaha. Dengan memiliki rencana usaha kamu akan tau usahamu kurangnya apa, lebihnya apa. Usaha mau dibawa kemana. Usaha mau digimanain. Kemarin udah ngapain, sekarang mau ngapain, dan besok mau ngapain tentang usahamu. Dari situ kamu bisa perkirakan berapa butuh uangnya, dan berapa akan masuk uang dari kegiatan kegiatan yang sudah kamu rencanakan.

Tagih hutang dan pembayaran yang tertunda. Kamu bikin batasan kapan paling lambat orang bisa menunda pembayaran sampai kamu membuat tindak lanjut lainnya. Misal mendatangi dan menagih langsung kepada mereka misalnya.

Sisihkan sedikit uang untuk dana darurat. Lakukan secara berkala.

Bekerja keraslah dan jangan gengsi. Misal kamu punya usaha jasa angkut, kamu nggak perlu cari kendaraan niaga yang mahal padahal fungsinya sama aja dengan kendaraan yang murah.

Usaha itu harus menghasilkan uang. Atau setidaknya harus terus berkembang. Kalau nggak ya siap siap bangkrut.

Bagikan :

1 comment on Usaha Tidak Menghasilkan Uang, Beberapa Kesalahan Mengelola Uang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *